Refleksi




"Hai, bagaimana kabarmu hari ini?"
Pantulan diri di cermin tak pernah bisa bohong. 
Aku cuma bisa bertahan untuk diam... paling lama sepuluh detik pertama.
Terkadang hanya menatap pantulan bola mata cokelat pekat, yang justru menunjukkan hal sebenarnya... 
bahwa ada ruang kosong yang terus menghisap keberadaanku saat ini.  


"Kamu sedang tidak baik-baik saja."
Ya, betul. 
Aku sendiri paham betul apa yang terjadi pada diriku. 
Jangan mencoba baik-baik saja. 
Ini bukan masalah aku tidak lebih baik, ataupun orang lain jauh lebih baik.
Ini tentang aku yang sedang luka dan sakit. 


"Kamu... butuh apa?"
Hening yang cukup lama... bukan, Aku tidak sedang berpikir keras.
Tak satupun kata melintas di kepala sejak jarum panjang jam dinding bergerak pelan dan kini jarum satunya mengikuti. 
Aku justru tak tahu apa yang kubutuhkan. 
Itu adalah hal yang paling mengerikan.


"Kamu tak menemukannya. Kamu kehilangan..."
Kata itu menggantung tepat di ujung lidah, tapi aku tak tahu apa. 
Mataku beralih ke pantulan bibir dan kembali ke bola mata cokelat pekat yang entah dari mana asalnya harapan muncul untuk menemukan jawaban.
Tentunya, jawaban itu tidak ada.


"Ya... kamu kehilangan..."
Entahlah kali ini Aku berusaha melengkapi kalimat atau mendikte diri...
Sudah lah...


"Sudah lah..."
Kuurungkan segala upaya untuk mencari, memikirkan hal yang kucari dari tadi, dan menghibur diri sedikit.
Mungkin...


Hari buruk pasti ada dan Kau tahu akan datang suatu saat. 
Tapi Kau tak akan pernah siap ketika hal itu datang. 
Manusia jarang belajar untuk berangkat dari hal yang gagal atau diluar ekspektasinya lebih dulu.
Ataukah kita tidak pernah diajari untuk berangkat dari membayangkan kegagalan?
Kini, ketika hari buruk itu tiba... Kau tak tahu harus apa dan Aku selalu terjebak untuk mencari jalan keluar duluan.


Ternyata, hari buruk hanya perlu disambut, diterima dan dimaafkan. 

Komentar

Postingan Populer