Maaf & Terima
Apakah kau tahu kalau memaafkan adalah sebuah proses?
Awalnya, aku mengira memaafkan hanya tentang perkara urusan dengan orang lain akan selesai dan ketulusan serta keikhlasan menyertai keputusan itu.
Selesai, kan. Next?
Tapi, ternyata tidak begitu.
Memaafkan juga ada urusannya dengan diri sendiri, dengan luka, energi, waktu, dan lainnya yang melekat. Seringkali kita melupakan hal ini. Secara tidak sadar kita mengabaikannya karena urusan dengan orang lain sudah selesai. Kita anggap perkara sudah selesai. Padahal kita juga perlu bertanya ke diri sendiri: "Betulkah sudah selesai? Sudah baik-baik saja?"
Perlu diingat, orang pertama yang peduli dengan apa yang terjadi terhadap diri kita adalah kita sendiri dan jawaban paling baik dari permasalahan terhadap diri sendiri adalah menghadapinya dan menerima.
Tapi, perjalanan untuk menghadapi dan menerima itu ngga mudah.
Aku ibaratkan proses memaafkan dan menerima juga seperti belajar naik sepeda.
Mungkin awalnya kita akan takut jatuh dan luka, tapi kalau ngga belajar ngga akan bisa, sampai kapanpun juga. Butuh keberanian untuk memulai dan tentu jatuh, keseleo, pergelangan tangan sakit, bahkan otot-otot badan ikutan sakit karena tegang juga perlu dilalui. Kita mungkin juga merasakan shock ketika jatuh, keluar air mata ketika tahu ada luka, merasakan perih ketika luka dikasih obat merah, dan berupaya lukanya cepat kering. Ada yang selagi menunggu luka kering tetap berlatih sepeda dan ada juga yang nunggu luka kering dulu baru latihan lagi atau bahkan menyerah setelah itu. It's up to us.
Proses memaafkan pun seperti itu hingga tahap menerima. Kita akan belajar mengumpulkan keberanian untuk memaafkan, belajar untuk memberi treatment terhadap luka yang ada dan menjaga hingga lukanya kering. Tak ada batasan waktu pasti untuk semua itu selesai. Yang perlu dipastikan adalah prosesnya yang terus berjalan. Jangan sampai kita menyerah di tengah jalan dan kita abaikan.
Tahu ngga, ketika sudah memaafkan dan mengobati luka itu kenapa ya ada aja yang korek-korek kan jadi luka lagi.
Betul, walaupun sudah mencoba menghindar ternyata hal itu sulit ya dihindari dan akhirnya menimbulkan luka lagi. Jawabannya adalah mengulangi proses itu lagi dan lagi sampai lukanya kering.
Se-simple itu? Ngomong aja emang mudah sih, ya..
Betul, memang ngga semudah itu untuk mengulangi proses yang sangat menguras energi, waktu dan sebagainya. Tapi ingat lagi kalau memaafkan adalah sebuah proses dan mencapai tahap menerima itu ibarat belajar naik sepeda. Entah berapa kali jatuh dan luka yang melengkapi kenangan kita belajar naik sepeda, kan?
Kabar baiknya, memaafkan adalah langkah yang melegakan. Memaafkan juga bisa kasih energi baru, loh. Kita juga terhindar dari kesalahan orang lain yang ngga terprediksi oleh kita. Memaafkan adalah langkah awal untuk menerima sesuatu.
Jadi, yuk kita belajar bahwa memaafkan dan menerima adalah sebuah proses, bukan sebuah momen. Kita pun perlu bersabar, ngga hanya ke orang lain tapi ke proses yang terjadi di diri sendiri.
19 Okt 2021
Jakarta
Komentar
Posting Komentar