2022's Reflection



Hai ReadersπŸ‘‹

Gimana kabarnya di hari pertama tahun 2023? Semoga semuanya dalam kondisi sehat dan happy untuk menyambut tahun 2023, lembaran baru yang siap dilukis dengan gambar dan warna baru.

Kali ini aku mau share tentang refleksiku terhadap tahun 2022. Ini jadi kebiasaanku di bulan Desember, umumnya start di tanggal 8 dan berakhir di tanggal 31. Aku coba menggunakan momen bertambah umur dan akhir tahun untuk merefleksikan lagi setahun dan puluhan tahun ke belakang hidupku dan kira-kira aku mau lakukan apa ke depannya. Sesederhana itu. 

Yang aku tahu, kegiatan refleksi itu akan baik untuk dirimu, mentalmu, dan bahkan bila ini dibilang sebagai kegiatan muhasabah maka aku teringat lagi akan hal ini:



Maka tulisan ini aku buat semata-mata untuk pengingat buat diriku dan mungkin kalau ada hal yang bisa diambil hikmahnya semoga bisa bermanfaat buat yang membaca. πŸ˜„

Setelah dari kemarin aku baca jurnal harianku selama setahun, kadang bacanya sambil ketawa dan ngga jarang juga terharu.. ternyata ngga kerasa aku bisa melalui tahun yang penuh ups and downs ini sampai akhir. Alhamdulillah 😊 Aku jadi bersyukur banget dan merasa bangga dengan diriku πŸ’œ. 


Kamu juga punya jurnal harian, ngga? Kalau belum, cobain deh mulai hari ini!


Aku coba buat quick recap selama tahun 2022 dan mungkin ada beberapa hal yang baru aku share di sini.

1. Awal tahun kelam. 

Tahun 2022 aku awali dengan sebuah kondisi diri yang sedikit terguncang. Bisa dibilang cukup buruk karena ternyata merupakan akumulasi dari beberapa kejadian di tahun sebelumnya. Kemudian terpicu oleh suatu momen yang niat awalnya baik tapi kata-kata yang disampaikan terasa buat gelap seisi dunia. Faktanya, tahun 2021 ngga mudah untuk aku memproses semua hal buruk yang terjadi. Ternyata aku mengalami beberapa fase berikut: 1) penolakan kenyataan; 2) selama proses awal penerimaan, aku langsung mengajak diriku untuk berpikir rasional dan melanjutkan kehidupan; 3) ternyata dari proses awal itu aku ngga sempat mengolah emosi negatif dengan baik hingga salah mengubah emosi itu menjadi amarah; 4) amarah ini aku jadikan bahan bakar untuk bergerak.. yang mana tetap kurang tepat karena di akhir tahunnya aku harus menghadapi emosi yang selama ini kuhindari: kesedihan

Hal itu menyebabkan awal tahun 2022 dipenuhi dengan kekalutan.

Seringkali diriku demotivasi, looping terhadap hal-hal negatif yang ada di masa lalu, menghindari kontak dengan orang, hingga... kesulitan mengingat/merangkai kata-kata. Di tambah lagi kondisi saat itu adalah sedang menyelesaikan Tesis. πŸ˜‚ Damage Combo! Sekarang sih bisa ketawa-ketawa kalau inget, tapi dulu wah rasanya mau skip hari dengan tidur aja sampai sakit pinggang. πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚ 

(Sekali lagi ini bukan tentang cerita penderitaan, tapi kutulis untuk mencari pelajarannya untuk diri sendiri. Syukur alhamdulillah kalau itu juga bermanfaat buatmu).

 

Hikmahnya

Aku jadi memahami bahwa diriku masih perlu belajar dalam mengolah suatu emosi dengan benar. Aku menemukan bahwa sejak dulu ada bentuk-bentuk reaksi yang muncul ketika berkaitan dengan emosi tersebut. Awalnya dalam bentuk diam, menelan semua rasa sedih yang dialami dan hanya mengeluarkannya dalam bentuk tulisan. Ketika mendapat respon dari lingkungan bahwa bentuk respon itu tidak baik, aku beralih ke pengabaian. Selalu berusaha secepat mungkin mengkonversi rasa sedih menjadi tawa atau rasa bahagia. Mungkin kalau kayak di film inside out, ada tombol skip buat sadness πŸ˜‚. Efek buruk dari kondisi itu adalah berusaha keras tertawa saat sedih dan saat bahagia jadi sedih. Nah loh! πŸ˜‚ Sudah ada warning dari dalam diri kalau cara yang ditempuh ngga benar. Alhamdulillah, masih ada untungnya sih aku tidak terlalu berlebihan dalam menghadapi emosi ini. Sampai akhirnya menyadari bahwa aku harus belajar untuk mengolah emosi ini dengan baik. 

Tapi ingat apa kawan? 

Life must goes on!


2. Best Support System Ever!

 

Terus, gimana caranya bangkit?


Salah satu hal yang paling susah dilakukan ketika dalam kondisi terpuruk adalah meyakinkan diri sendiri untuk bangkit. Banyak hal sudah dilakukan, dari mulai cerita ke dua sahabat aja, journaling sampai nengok lagi semua keinginan dan tujuan awal (terutama mencari motivasi untuk segera menuntaskan kewajiban S2). Mungkin saat itu juga akumulasi dari burn out karena merasa setiap menit yang dihabiskan kalau ngga ngerjain tesis rasanya sia-sia. Padahal tubuh juga punya haknya untuk istirahat dan refresh. Tapi, susah banget!!! Sampai-sampai sudah mau booking jadwal konseling ke psikolog karena ngga tahu harus gimana (and it's okay if you need to do it). πŸ˜‚ 

Alhamdulillah, bersyukur banget punya keluarga, sahabat, teman, dosen, dan orang-orang terdekat yang positif dan suportif. πŸ’œ 

πŸ”‘ Kunci pentingnya adalah ada pada diri untuk membicarakan semua hal yang dipendam dan selanjutnya punya tujuan yang ingin dicapai. Tapi, untuk memulai hal itu, kita harus belajar menerima kondisi kita dulu dan mau move on dari kondisi yang sudah ada. Remember that every first step is always the hardest one. Hal lain yang ngga kalah penting, kita perlu sadar bahwa respon orang lain adalah hal diluar kontrol kita. Okeh? Jadi, ngga perlu terlalu dimasukkan dalam pikiran kita. Inget tujuan awalmu kenapa kamu ingin bercerita dan didengarkan oleh mereka πŸ˜‰


Hikmahnya

Aku jadi lebih memahami diri lebih lagi. Jadi tahu bahwa semua bentuk emosi harus dicerna dengan baik oleh diri dan ngga perlu buru-buru baik-baik aja. Proses itu perlu:


Mengalami -> mengidentifikasi emosi -> menerima kondisi -> mencerna emosi -> mengekspresikan emosi dengan cara yang masih bisa dipertanggungjawabkan -> memproses kebutuhan diri -> menerima versi diri yang baru. 


Tanpa kesadaran diri, berbagai macam pertolongan yang diberikan di sekitar kita rasanya akan ngga punya kontribusi terhadap kita padahal semua bentuk pertolongan, sekecil apapun, itu kita perlukan. Beberapa kata-kata yang jadi penguat aku saat itu:


"Kamu sudah terlalu banyak mengorbankan dirimu untuk mengurus orang lain. Sekarang saatnya kamu peduli terhadap dirimu sendiri."



"Saya percaya kamu punya kemampuan untuk menyelesaikan ini daripada kamu menyerahkannya ke orang lain untuk diselesaikan. Kalau kamu belum punya kemampuan dan sumber daya untuk menyelesaikan permasalahan dan luka-luka itu, jangan paksakan selesai sekarang. Selamatkan dirimu dulu dan kemudian kumpulkan kemampuan dan sumber daya untuk nantinya kamu selesaikan permasalahan itu."


"Kalau lagi baper banget, ajak diri untuk berpikir rasional. Gitu juga sebaliknya."


Dan masih banyak lagi.. ada yang sifatnya sangat personal, tapi itu kusimpan buat diriku aja ya. πŸ˜‰


3. Kehidupan ngga selamanya kelabu.

Sebagai seorang muslim, aku selalu inget ayat ini:

“Maka sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain), dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap.”

(QS Al-Insyirah: 5-8)


Kalau kita tetap dalam kondisi sadar bahwa selain ada kesulitan juga ada kemudahan, kita akan bisa notice hal-hal yang sebetulnya itu bentuk kemudahan dari Allah SWT., ngga semua itu kesulitan atau ujian. Nah, saat itu aku sambil mikir tuh kemudahan apa aja yang dateng ke aku saat-saat itu. Ternyata banyak banget 😊

You are what you think!

Inget bahwa yang kamu pikirkan adalah magnet terhadap banyak hal di semesta ini. Kalau kamu most of the time berpikiran negatif, maka secara ngga sadar kamu akan melakukan hal negatif tersebut ataupun hal negatif datang kepadamu sebagaimana dirimu merespon kondisi yang ada. Begitu pula sebaliknya. Jadi, jangan lupa untuk selalu melihat celah yang terang meskipun rasanya duniamu lagi gelap gulita 😊 Oh ya, juga belajar untuk be mindful kalau kamu perlu berpikir jernih untuk menyelesaikan masalah yang ada, termasuk terhadap dirimu sendiri. Poin terakhir, jangan lupa Allah Maha Melihat, Maha Mendengar πŸ’“ Apa yang kamu lalui dan semua perjuanganmu dalam diam tak pernah luput dari Allah SWT. Jadi, jangan khawatir terhadap kondisi atau masalah yang sedang kamu hadapi saat ini. Walau berat, ingat, kamu masih punya Allah SWT. Kalau hal ngga berjalan sesuai yang kamu inginkan, ingat, kamu masih punya Allah SWT yang sudah lihat semua perjuanganmu. Jangan lupa ikhtiar perlu dibarengi dengan tawakkal. Begitu pula sebaliknya. 😊 Lanjut ke poin selanjutnya ya.


4. Refleksi

Seringkali kita (mungkin aku aja ya πŸ˜†) suka ngga sabar terhadap proses yang lagi kita jalani atau ingin cepat-cepat dapat hasilnya. Padahal kita seringkali dihadapkan dengan kondisi untuk bersabar dan berbaik sangka (khusnudzon) terhadap apapun yang lagi kita jalani dan dapatkan. 


Betul betul betul, cikgu!


That's why momen untuk berefleksi itu diperlukan. Ngga harus tiap akhir/awal tahun aja buat nulis resolusi πŸ˜‚ tapi kalau bisa ya dijadikan suatu kebiasaan. 

Salah satu hal yang kudapatkan dan (jika dihitung-hitung) so pasti itu di luar kemampuanku πŸ˜‚ adalah kesempatan untuk mengikuti event besar dunia: World Cup 2022. Oh! Juga beserta banyak bonus yang didapatkan. 😁 Itu semua betul-betul rahasianya Allah SWT. Kalau kamu mau hitung-hitung secara rasional, bisa. Tapi ngga akan cukup untuk menjawab semua pertanyaan 'kenapa' dan 'kok bisa'. Aku masih sangat ingin buat cerita ini terpisah dari pembahasan kali ini, so next time insyaAllah aku buat tulisannya. 

Tapi, kondisi tersebut membuatku menengok kembali apa saja yang sudah kulakukan selama setahun hingga berhak menerima reward se-langka itu. Dari hal tersebut aku bisa list lagi hal apa saja yang baik yang bisa dipertahankan/istiqomah dilakukan dan juga hal apa saja yang perlu kuperbaiki. 

Jadi, aku encourage kamu untuk mulai menciptakan kebiasaan berefleksi yang ga hanya dilakukan untuk buat resolusi tahun depan. Journaling might help you with this.


Semangat terus buat menjadi pribadi yang lebih baik 😊


Published: 1 Jan 2023

Edited: 09 Okt 2023

Jakarta

Komentar

Postingan Populer