Self-Healing
Halo readers! Gimana kabarmu seminggu ini? Semoga semua dalam keadaan sehat dan bahagia, ya. Sebetulnya dari judul kali ini aku agak berat untuk nulisnya, haha. Tapi, hari ini aku dapat banyak hal bagus dari topik ini dan juga waktu itu pernah minta pendapat di IG story yang salah satu jawaban dari teman adalah membahas bagaimana menghadapi luka hati. Haha, berat ya π aku sendiri sedang struggle dengan hal itu dan aku ngga ada pendidikan tentang psikologi, jadi agak ragu juga. Tapi, tujuanku nulis ini bukan untuk 'ngasih tahu dunia aku lagi bermasalah', 'butuh perhatian', apalagi 'dikasihani'. A big NO! π Kalau yang kenal aku dari kecil, pasti paham aku tipe yang seperti apa. π Aku hanya ingin share siapa tahu dari pengetahuan dan pengalamanku ada hal yang bisa kamu pelajari.
Perlu diingat, yang kutulis adalah berasal dari apa yang aku baca, tonton, dengar, alami ataupun hasil refleksi. Apabila kamu perlu referensi yang lebih tepat, ada baiknya kunjungi tenaga profesional untuk membantu, ya.
Dari kata self-healing, mungkin banyak orang yang membayangkan kalau orang yang melakukannya perlu pergi ke suatu tempat entah untuk cari fun atau ketenangan, mungkin ada juga yang menyendiri, ada yang butuh sarana untuk meluapkan emosi, malah ada yang pergi belanja... it's up to you, guys! Tapi, dari katanya sendiri, kalau kamu mau browsing dan baca, sebenarnya adalah tentang bagaimana diri kita melalui proses penyembuhan dengan sebagian besar kegiatannya adalah belajar memahami diri sendiri.
Duh, banyak hal yang diurusin ngapain sih pakai self-healing segala. Punya banyak waktu, ya?
Justru itu, kamu harus meluangkan waktu untuk melakukan proses self-healing, karena itu tentang dirimu sendiri. Bisa karena banyak hal, karena trauma, luka batin atau mental, tekanan, stress, atau bahkan neglecting atau mengabaikan dirimu sendiri. Yang paling penting untuk memulai proses ini adalah kamu menyadari kalau kamu perlu memahami dirimu lebih lagi dan melakukan perubahan yang di rasa perlu. Bukan untuk menilai orang lain sedang lakukan, apalagi dijulidin π΅. Hidup itu bukan untuk dibanding-bandingkan, apalagi dilombain π.
Remember that, we are no one to judge someone's life and what they've been through.
1. Sign
Okay, hal pertama yang perlu kamu lakukan (berdasarkan pengalaman) adalah mengenali sign yang terjadi pada dirimu. Ini, cuma kamu yang tahu dan bentuknya banyak. Bisa tiba-tiba kamu sadar karena suatu kejadian, dari pembicaraan dengan orang lain, terjadi hal buruk denganmu, sakit secara fisik, mimpi buruk, ataupun melakukan sesuatu yang repetitive dan bisa jadi kebiasaan ketika terjadi suatu situasi tertentu. Kamu bisa tambahkan ya apa saja kalau ada hal lain lagi yang belum masuk list. Pada intinya, sign itu hanya kamu yang tahu kalau terjadi ke dirimu adalah tanda kalau kamu lagi tidak baik-baik saja. Kalau kamu sudah sadar, kamu perlu terima dan next step-nya adalah menyembuhkannya. Itu... sudah menjadi langkah awal yang amat sangat baik dan perlu energi besar. Jangan lupa memberi selamat pada dirimu karena itu bukan hal yang mudah.
Selamat! Kamu berhasil untuk satu langkah lebih dekat mengenali dirimu. Ingat, ngga perlu terburu-buru dan ini semua ngga ada tenggat waktunya. Take your time to heal yourself.
Waktu dulu S1, aku punya problem dengan diriku yang aku baru sadari pas sudah mau lulus. Sign yang aku terima saat itu adalah sakit fisik. Buat orang lain mungkin ketika tahu itu hal yang amat biasa, bahkan yang aku terima saat itu banyak yang bilang "Oh, itu biasa bukan? Aku juga kayak gitu kalau lagi low banget kondisi fisiknya". Tapi, buatku saat itu rasanya seperti ditempeleng kepalanya... apa ya kayak ditepok kepalanya supaya sadar. Haha.. Karena secapek atau se-stress kondisi diriku hampir ngga pernah mengalami sakit itu. Jadi, saat itu aku sadar sepertinya aku terlalu keras sama diriku sendiri.
Memang saat itu situasinya membutuhkan aku untuk dalam keadaan siaga (dan akhirnya malah jadi selalu siagaπ ), jadi aku punya pikiran ngga punya waktu untuk merasa sedih. Nah, ini awal dari banyak hal yang perlu diperbaiki dan disembuhkan π.
Guys, perlu diingat! Sehebat dan setangguh apapun kamu yang disertai dengan berbagai ujian hidup yang memang tidak mudah, merasa sedih itu adalah hal normal dan wajar untuk kamu rasakan π. Jadi, jangan kamu abaikan. Justru, kamu perlu terima sebagai salah satu emosi yang memang ada di dirimu.
Aku akui itu sebuah mindset yang salah dan perlu diperbaiki. Awal dari itu semua adalah terlalu mengandalkan rasionalitas untuk langsung cari solusi kalau ada masalah. Bagus sih, tapi yang diperhatikan adalah bagaimana kamu meluapkan emosi itu dan bagaimana proses penerimaan emosi itu di dirimu. Bahasa mudahnya, kalau kamu sedih ya ngga apa-apa sedih, mau menangis atau apa terserah kamu cara meluapkannya selama tidak menyakiti diri sendiri tapi perlu diingat jangan terlalu larut karena life must goes on, right?
Contoh di atas mungkin bukan jadi masalah untukmu. Tapi, apapun masalahmu, kamu perlu sadari sign-nya. Dengan begini, kamu bisa lebih self aware dengan kondisi diri sendiri.
2. Identifikasi
Sejujurnya, untuk part ini kamu bisa melalui tenaga profesional untuk tidak salah karena self-diagnose. Tapi, kalau kamu punya keterbatasan atau masalah tersendiri sehingga tidak bisa melalui cara tersebut mungkin ini bisa kamu lakukan tapi butuh waktu yang tidak sebentar. Yang aku lakukan saat itu adalah berkali-kali menanyakan 'kenapa'. Bukan 'kenapa ini semua terjadi' atau 'kenapa hidupku berat sekali' πππ tapi:
Kenapa aku sakit saat itu?
Kenapa aku sulit bilang ke orang yang berada di lingkaran terdekatku kalau aku sakit?
Kenapa aku memilih melakukan hal ini untuk merespon diri lagi sakit?
Intinya, kamu menanyakan tindakan yang sudah kamu lakukan atau yang sudah terjadi untuk kamu atasi dan cari solusinya.
Selain itu, aku meminta pendapat dari orang terdekat tentang diriku, mulai dari teman, keluarga, senior, kenalan, sahabat, dosen, dan lainnya. Salah satu yang buat aku sadar adalah ada seorang teman yang bilang kalau aku tampak bekerja terlalu keras. Saat mendengar itu, aku sendiri juga tidak sadar kalau sudah memaksakan diri terlalu keras. Kesadaran dan evaluasi terhadap aksi kita itu perlu (walaupun tidak harus selaluπ). Selain itu, yang perlu menjadi catatan adalah hindari untuk langsung men-judge diri sendiri.
Aduh, kalau kayak gini berarti aku lagi mengalami A; kalau begini berarti aku orangnya B π±
Nah, sudah belajar ngga men-judge orang lain tapi diri sendiri malah di judge π Jangan sampai ya. Kasian dirimu. Justru yang perlu adalah sayangi dirimu π
Poin terakhir adalah sebaiknya mencari tenaga profesional untuk membantumu. Kalau kamu merasa belum memiliki kemampuan untuk itu, cari terus pengetahuan terkait hal yang menjadi keresahanmu. Tentunya dari sumber yang credible. Jangan hanya dari pengalaman orang, tapi juga buku self-help bahkan penelitian, atau juga bisa denger podcast punya expert. Itu akan banyak membantumu.
So, semangat buat kita yang lagi terus berjuang dan melalui proses sembuh dari suatu luka π
You are amazing just the way you are π
Published: 28 Feb 2022
Edited: 09 Okt 2023
Jakarta

Komentar
Posting Komentar